SLA
(Service Level Agreement)
Service Level Agreement
atau jika diterjemahkan Perjanjian Tingkat Layanan, adalah bagian dari
perjanjian layanan secara keseluruhan antara 2 dua entitas untuk peningkatan
kinerja atau waktu pengiriman harus di perbaiki selama masa kontrak. Dua
entitas tersebut biasanya dikenal sebagai penyedia layanan dan klien, dan dapat
melibatkan perjanjian secara hukum karena melibatkan uang, atau kontrak lebih
informal antara unit-unit bisnis internal.
SLA ini biasanya
terdiri dari beberapa bagian yang mendefinisikan tanggung jawab berbagai pihak,
dimana layanan tersebut bekerja dan memberikan garansi, dimana jaminan tersebut
bagian dari SLA memilikitingkat harapan yang disepakati, tetapi dalam SLA mungkin
terdapat tingkat ketersediaan, kemudahan layanan, kinerja, operasi atau tingkat
spesifikasi untuk layanan itu sendiri. Selain itu, Perjanjian Tingkat Layanan
akan menentukan target yang ideal, serta minimum yang dapat diterima.
SLA dibutuhkan jika
dilihat dari sisi Penyedia layanan adalah sebagai jaminan atas service yang
diberikan kepada klien, sehingga klien tersebut bisa puas atas layanan yang
diberikan, dampak lain yang akan muncul dari sisi penyedia layanana adalah
konsep pemasaran tradisional yaitu pemasaran dari mulut ke mulut , maksudnya
adalah klien akan memberikan rekomendasi kepada temannya/ rekan lainnya bahwa
layanan yang diberikan oleh penyedia tersebut bagus, sehingga berharap teman/
rekan lainnya mau berlangganan kepada provider/ penyedia layanan tersebut.
SLA dapat berisi banyak
metrik kinerja layanan dengan sasaran tingkat layanan yang sesuai. Kasus umum
dalam manajemen layanan TI adalah call center atau service desk. Metrik yang
biasanya disepakati dalam kasus ini meliputi:
·
Abandonment Rate: Persentase panggilan
yang ditinggalkan sambil menunggu untuk dijawab.
·
ASA (Average Speed to Answer): Waktu
rata-rata (biasanya dalam hitungan detik) dibutuhkan panggilan yang harus
dijawab oleh meja layanan.
·
TSF (Time Service Factor): Persentase
panggilan yang dijawab dalam jangka waktu yang pasti, misalnya 80% dalam 20
detik.
·
FCR (First-Call Resolution): Persentase
panggilan masuk yang dapat dipecahkan tanpa penggunaan panggilan balik atau
tanpa pemanggil memanggil kembali helpdesk untuk menyelesaikan penyelesaian kasus
ini.
·
TAT (Turn-Around Time): Waktu yang
dibutuhkan untuk menyelesaikan tugas tertentu.
·
MTTR (Mean Time To Recover): Waktu yang
dibutuhkan untuk pulih setelah outage of service.
Masalah umum yang berpengaruh pada manajemen tingkat
pelayanan meliputi :
- Pengertian SLA yang mendorong perilaku yang tidak efektif dan tidak produktif
- SLA didefinisikan/disepakati tanpa berkonsultasi dengan tim yang bertanggung jawab untuk memberikan layanan
- Pengertian SLA yang rumit sehingga tidak dipahami oleh kelompok pelaksana
- Terlalu banyak fokus pada etika masing-masing individu
- Kurangnya sudut pandang pekerjaan secara keseluruhan
- Peringatan yang berlebihan sehingga menyebabkan orang mengabaikannya
- Pekerjaan berlebihan yang tidak perlu sehingga bertentangan dengan SLA
- Mengalihkan sumber daya ke SLA yang sia-sia
- Manajemen mikro dengan angka
Contoh Kasus SLA :
Beberapa
provider IT khususnya provider /
penyedia layanan internet memberikan SLA antara 96% – 99%, artinya dalam 1
bulan pihak provider menjamin bahwa layanan yang diberikan adalah :
1 hari = 24 jam 1 bulan = 30 hari
Biaya bulanan Internet = Rp. 1.000.000
==> 1 bulan = 30 hari x 24 jam = 720 Jam (720 jam
merupakan layanan 100%)
==> Sedangkan jika 98% maka layanan standard
mereka adalah
==> 98% * 720 jam = 705.6 jam (layanan standard
mereka, sisanya 14.4 jam dianggap wajar jika layanan itu mati (down)
Pengertian
Restitusi dan Bagaimana menghitung Restitusi
Restitusi
adalah pengembalian dalam bentuk (bisa dalam bentuk pembayaran (uang), ataupun
lainnya (tergantung kontrak) dari pihak penyedia layanan kepada klien.Sebagai
contoh (dengan mengambil lanjutan perhitungan diatas), jika klien mempunyai
kewajiban membayar Rp. 1.000.000 :
Biaya bulanan internet = Rp. 1.000.000
SLA layanan (contoh bulan Juli) = 76,6% (100% – 23,3%), artinya pihak
provider bulan juli hanya bisa memberikan layanan internet sebesar 76,6%
artinya ada selisih (98% – 76.6% = 21.3%, yang tidak bisa dipenuh oleh pihak
provider) Nah 21,3 % itu adalah hak kita u/ mendapatkan penggantian,
penggantian ini biasanya dlm bentuk pengurangan pembayaran, misalkan kita bayar
1bulan Rp. 1.000.000 = untuk layanan 98% (1% sekitar Rp. 10.204)
Maka u/
layanan hanya :
76.6% = 1.000.000 – (21.3% X Rp. 10.204)
= Rp1.000.000 – Rp.217.345
= Rp. 782.654
Artinya dalam bulan ini kita hanya punya kewajiban
membayar sekitar Rp. 782.654
OLA(Operational
Level Agreement)
Operational-level
agreement (OLA) mendefinisikan hubungan saling tergantung dalam mendukung
Service-level agreement (SLA). Kesepakatan tersebut menggambarkan tanggung
jawab masing-masing kelompok pendukung internal terhadap kelompok pendukung
lainnya, termasuk proses dan kerangka waktu untuk penyampaian layanan mereka.
Tujuan OLA adalah untuk menyajikan deskripsi dukungan internal dari penyedia
layanan yang jelas, ringkas dan terukur.
OLA kadang diperluas ke
frase lain tapi semuanya memiliki arti yang sama:
·
Organisational-level agreement
·
Operating-level agreement
·
Operations-level agreement
OLA (s) bukan pengganti SLA. Tujuan OLA adalah untuk membantu memastikan bahwa kegiatan pendukung yang dilakukan oleh sejumlah komponen tim pendukung secara jelas disesuaikan untuk menyediakan SLA yang dimaksud.
Jika OLA yang berada di bawah tidak ada, seringkali sangat sulit bagi organisasi untuk kembali dan memberi persetujuan insinyur antara tim pendukung untuk mengirimkan SLA. OLA (s) harus dilihat sebagai dasar praktik yang baik dan kesepakatan bersama.
Perbedaan
SLA dan OLA
Perbedaan antara Service Level Agreement (SLA) dan Operational
Level Agreement (OLA) adalah apa yang secara keseluruhan oleh organisasi TI
menjanjikan kepada pelanggan (SLA), dan apa yang diinginkan oleh kelompok
fungsional TI satu sama lain (OLA). SLA dapat menyatakan bahwa "TI akan
memastikan bahwa peralatan komputer akan dipertahankan". Tentu pernyataan
itu adalah generalisasi yang tidak bisa diukur, jadi mungkin pernyataan yang
lebih baik adalah "Tidak akan ada kurang dari 100 jam kerja yang hilang
per tahun karena kurangnya pemeliharaan peralatan komputer".
OLA perlu menyatakan segala sesuatu yang dibutuhkan kelompok
fungsional TI dalam kaitannya untuk mendukung SLA. Hal ini akan mencakup apa
yang tim server akan lakukan untuk menambal server, apa tim desktop yang akan
dilakukan untuk menambal sistem desktop, apa yang akan dilakukan oleh DBA untuk
mengoptimalkan basis data, dll. Idenya adalah bahwa janji yang dibuat di SLA
harus dapat diukur dan didukung sepenuhnya oleh OLAs yang diandalkan SLA.
Jadi intinya, Jika kita kenal SLA (Service Level Agreement)
sebagai bentuk perjanjian layanan dari suatu IT provider kepada pelanggan,
didalam perusahaan kita juga akan kenal OLA (Operational Level Agreement) yang
merupakan perjanjian layanan dari suatu divisi TI kepada pelanggan/pengguna
internal. Divisi TI bisa memberikan layanan secara professional, efeknya mereka
juga bisa merupakan bagian dari bisnis itu sendiri. TI harus bisa menjadi
enabler (pemampu) bukan hanya sebagai tool (alat bantu) dalam suatu bisnis.
Source :






2 komentar:
MSA document- By addressing only the specific situation at hand while keeping the core precepts that will govern all future contracts, an MSA allows for changes as circumstances change.
your information is very informative ! you reach us at Commercial Interior Design Services in Dhayari, Pune, India Read Now!
Posting Komentar