2. Enkripsi dan
Dekripsi
Setiap
orang yang bermaksud menyimpan sesuatu secara pribadi, akan melakukan segala
cara untuk menyembunyikannya, sehingga orang lain tidak tahu. Contoh sederhana,
ketika kita mengirim surat kepada seseorang, maka kita membungkus surat
tersebut dengan amplop agar tidak terbaca oleh orang lain. Untuk menambah kerahasiaan
surat tersebut agar tetap tidak dibaca orang dengan mudah apabila amplop
dibuka, maka kita mengupayakan untuk membuat mekanisme tertentu agar isi surat
tidak secara mudah dipahami. Salah satu hal yang penting dalam komunikasi
menggunakan computer untuk menjamin kerahasiaan data adalah Enkripsi. Enkripsi
adalah sebuah proses yang melakukan perubahan sebuah kode yang bisa dimengerti
menjadi sebuah kode yang tidak bisa dimengerti (tidak terbaca).
Enkripsi
dapat diartikan sebagai kode atau chiper. Sebuah system pengkodean menggunakan
suatu table atau kamus yang telah didefinisikan untuk mengganti kata dari informasi
atau yang merupakan bagian dari informasi yang dikirim. Sebuah chiper
mengunakan suatu algoritma yang dapat mengkodekan semua aliran data (stream)
bit dari sebuah pesan menjadi cryptogram yang tidak dimengerti
(unintelligible). Karena teknik chiper merupakan suatu system yang telah siap
untuk di automasi, maka teknik ini digunakan dalam system keamanan computer dan
jaringan. Enkripsi dimaksudkan untuk melindungi informasi agar tidak terlihat
oleh orang atau pihak yang tidak berhak. Informasi ini dapat berupa nomor kartu
kredit, catatan penting dalam komputer, maupun password untuk mengakses
sesuatu.
Masalah
kerahasiaan ini sudah ada jauh sebelum adanya computer. Julius Caesar, yang
khawatir jangan sampai pesan untuk para jenderalnya jatuh ke tangan musuh, maka
ia menggunakan metode enkripsi sederhana dengan menggeser huruf pada abjad
dengan nilai tertentu. Sederhana memang, namun pada waktu itu sudah memadai. Sepanjang
sejarah pembentukan kode dan pemecahannya selalu mendapat perhatian khusus
dalam operasi militer. Penggunaan computer untuk pertama kalinya dalam
kriptografi merupakan usaha untuk memecahkan kode enigma Nazi sewaktu Perang Dunia
II.
Kini,
pada zaman modern, adanya computer memungkinkan kita menghasilkan kode yang
kompleks, dan sebaliknya pula dapat digunakan untuk memecahkannya. E-commerce
adalah industri lain yang sangat intensif memanfaatkan kriptografi. Dengan
meng-enkrip paket data yang lalu lalang di internet, walaupun seseorang dapat
menangkap paket-paket data tersebut, tetap saja ia tidak dapat memahami
artinya. Enkripsi
juga digunakan untuk verifikasi, maksudnya bila mendownload software, kita akan
tahu bahwa software yang kita download adalah yang asli, bukannya yang telah
dipasangkan Trojan di dalamnya. Dalam hal ini terdapat tiga kategori enkripsi,
yaitu :
1.
Kunci
enkripsi rahasia, artinya terdapat sebuah kunci yang digunakan untuk
mengenkripsi dan juga sekaligus mendekripsikan informasi
2.
Kunci
enkripsi public, artinya dua kunci digunakan satu untuk proses enkripsi dan
yang lain untuk proses dekripsi.
3.
Fungsi
one-way, atau fungsi satu arah adalah suatu fungsi dimana informasi dienkripsi
untuk menciptakan “signature” dari informasi asli yang bisa digunakan untuk
keperluan autentikasi.
Salah
satu masalah dalam mengamankan enkripsi secara public adalah bagaimana memastikan
bahwa hanya sang penerima yang dapat mengakses data. Jika kita dapat mengunci
data dan mengirimkannya bersama kuncinya ke alamat tujuan, tetapi bagaimana
memastikan kunci itu tidak dicuri orang di tengah jalan? Salah satu cara untuk
memecahkannya adalah bahwa penerima yang mengirimkan kuncinya, tetapi pengirim
tidak mengirimkan kuncinya. Si pengirim mengunci data dengan gembok yang
dikirim oleh si penerima dan mengirimkannya kembali kepada si penerima.
Si
penerima kemudian akan membukanya dengan kunci miliknya yang tidak pernah dikirimkannya
ke siapa-siapa. Jika data yang digembok itu dicuri orang, maka dengan enkripsi
yang kompleks akan sangat sulit bagi orang itu untuk mengakses data yang sudah
digembok itu. Enkripsi dibentuk berdasarkan suatu algoritma yang akan mengacak
suatu informasi menjadi bentuk yang tidak bisa dibaca atau tidak bisa dilihat.
Dekripsi
adalah proses dengan algoritma yang sama untuk mengembalikan informasi teracak
menjadi bentuk aslinya. Metode enkripsi yang lebih umum adalah menggunakan
sebuah algoritma dan sebuah kunci. Kunci harus diletakkan terpisah dari pesan
yang terenkripsi dan dikirimkan secara rahasia. Teknik semacam ini disebut
sebagai symmetric (single key) atau secret key cryptography. Selanjutnya, akan muncul
permasalahan kedua, yaitu bagaimana mengirim kunci tersebut agar kerahasiaannya
terjamin.
Karena,
jika kunci dapat diketahui oleh seseorang maka orang tersebut dapat membongkar pesan
yang kita kirim.
MODEL-MODEL
ENKRIPSI
Dalam
membahas model-model enkripsi beserta algoritma yang akan dipakai untuk setiap
enkripsi ada 2 hal yang penting yang akan dijabarkan, yaitu enkripsi dengan
kunci pribadi dan enkripsi dengan kunci publik.ENKRIPSI DENGAN KUNCI PRIBADI
Enkripsi dapat dilakukan jika si pengirim dan si penerima telahsepakat untuk
menggunakan metode enkripsi atau kunci enkripsi tertentu. Metode enkripsi atau
kuncinya ini harus dijaga ketatsupaya tidak ada pihak luar yang mengetahuinya.
Masalahnyasekarang
adalah bagaimana untuk memberi tahu pihak penerimamengenai metode atau kunci
yang akan kita pakai sebelum komunikasi yang aman bisa berlangsung. Kesepakatan
caraenkripsi atau kunci dalam enkripsi ini bisa dicapai lewat jalur komunikasi
lain yang lebih aman, misalnya dengan bertemu langsung. Tetapi, bagaimana jika
jalur komunikasi yang lebh aman ini tidak memungkinkan ? Yang jelas, kunci ini
tidak bisa dikirim lewat jalur E-mail biasa karena masalah keamanan. Cara
enkripsi dengan kesepakatan atau kunci enkripsi di atas dikenal dengan istilah
enkripsi dengan kunci pribadi, karena cara enkripsi atau kunci yang hanya boleh
diketahui oleh dua pribadi yang berkomunikasi tersebut.
Cara
enkripsi inilah yang umum digunakan pada saat ini baik untuk kalangan
pemerintah maupun kalangan bisnis. Cara enkripsi ini juga dikategorikan sebagai
kriptografi simetris, karena kedua belah pihak mengetahui kunci yang sama.
Selain masalah komunikasi awal untuk penyampaian kunci, cara enkripsi ini juga
mempunyai kelemahan yang lain. Kelemahan ini timbul jika terdapat banyak orang
yang ingin saling berkomunikasi. Karena setiap pasangan harus sepakat dengan kunci
pribadi tertentu, tiap orang harus menghafal banyak kunci dan harus
menggunakannya secara tepat. Sebab, jika tidak maka si penerima tidak bisa
mengartikannya. Jika diformulasikan, jika ada N orang yang ingin saling berkomunikasi
dengan cara enkripsi ini, maka total jumlah kunci yang beredar :
N * (N – 1) / 2
Hal
ini akan menimbulkan masalah dalam pengaturan sebuah kunci. Misalnya, kunci
yang mana yang akan dipakai untuk mengirim ke A.
Ada beberapa
model enkripsi yang termasuk golongan ini :
- Simple
Substituton Cipher
- DES
- Triple DES
- Rivest Code
(RC2)
- Rivest Code 4
(RC4)
- IDEA
- Skipjack
- Caesar Cipher
- Gost Block
Cipher
- Letter Map
- Transposition
Cipher
- Blowfish
- Vigenere
Cipher
- Enigma Cipher
MODEL-MODEL
PENYANDIAN
1. Penyandi
Monoalfabetik
Metode penyandian monoalfabetik
Sandi Caesar, atau sandi geser, atau Geseran
Caesar adalah salah satu teknik enkripsi yang paling dasar, paling sederhana
,dan paling terkenal. Sandi ini hanya cukup menggeser sebanyak n buah. Hasil
penggeseran tersebut adalah hasil enkripsi sandi Caesar.
Pada prinsipnya, setiap huruf digantikan
dengan huruf yang berada tiga (3) posisi dalam urutan alfabet. Sebagai contoh
huruf “a” digantikan dengan huruf “D” dan seterusnya.
Sebagai contoh,
jika n = 3, maka kata „Aku ingin mandi‟ berubah menjadi „Dnx lqjlq pdqgl‟.
2. Penyandian
Polialfabetik
Merupakan suatu
enkripsi dilakukan dengan mengelompokkan beberapa huruf menjadi sebuah kesatuan
(unit) yang kemudian dienkripsi. Metode pada Penyandi Polialfabetik adalah
Playfair.
Berikut ini
aturan-aturan proses enkripsi pada Playfair:
1. Jika kedua
huruf tidak terletak pada baris dan kolom yang sama, maka huruf pertama menjadi
huruf yang sebaris dengan huruf pertama dan sekolom dengan huruf kedua. Huruf
kedua menjadi huruf yang sebaris dengan huruf kedua dan sekolom dengan huruf
pertama. Contohnya, SA menjadi PH, BU menjadi EP.
2. Jika kedua
huruf terletak pada baris yang sama maka huruf pertama menjadi huruf setelahnya
dalam baris yang sama, demikian juga dengan huruf kedua. Jika terletak pada
baris kelima, maka menjadi baris pertama, dan sebaliknya. Arahnya tergantung
dari posisi huruf pertama dan kedua, pergeserannya ke arah huruf kedua.
Contohnya, AH menjadi TR, LK menjadi KG, BE menjadi CI.
3. Jika kedua
huruf terletak pada kolom yang sama maka huruf pertama menjadi huruf setelahnya
dalam kolom yang sama, demikian juga dengan huruf kedua. Jika terletak pada
kolom kelima, maka menjadi kolom pertama, dan sebaliknya. Arahnya tergantung
dari posisi huruf pertama dan kedua, pergeserannya ke arah huruf kedua. Contohnya,
DS menjadi LY, PA menjadi GW, DH menjadi HY.
4. Jika kedua
huruf sama, maka letakkan sebuah huruf di tengahnya (sesuai kesepakatan).
5. Jika jumlah
huruf plainteks ganjil, maka tambahkan satu huruf pada akhirnya, seperti pada
aturan ke-4.
Publik key
Public
key merupakan sebuah metode baru yang mengubah cara pandang banyak orang
mengenai metode penyandian konvensional. Sistem ini menyediakan sesuatu yang
unik yaitu pengirim hanya perlu mengamankan kunci privatnya, sedangkan kunci
yang lainnya dishare ke publik
DES
Data
Encryption Standard (DES) adalah sebuah sistem kriptografi standar dengan jenis
dan modus algoritma simetri. Algoritma kriptografi yang digunakan dalam DES -
yang disebut Data Encryption Algorithm (DEA) - merupakan pengolahan bit dalam
bentuk block cipher
DES
merupakan cipher blok dengan menggunakan 64-bit blok dan menggunakan panjang
kunci eksternal kunci dari 64 bit juga (sama dengan ukuran blok). Pada DES,
proses enkripsi data (plaintext) menggunakan kunci internal atau sub-kunci di
sepanjang 56 bit yang dihasilkan dari kunci eksternal.


0 komentar:
Posting Komentar